Rabu, 15 Juli 2009

BAKAT TALENTA : MUTIARA TERSEMBUNYI

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo
Direktur DMI Primagama

INTRODUCTION. Dalam bilangan waktu yang relatif tidak sedikit, ikhtiar manusia terus menerus dari satu generasi menuju generasi berikutnya selalu mengalami suatu perkembangan. Betapa optimisnya para peneliti kelas dunia untuk menemukan suatu metode yang dapat mengenali bakat seseorang. Dengan segenap semangat dan bekal keilmuannya yang telah teruji dibidangnya mereka selalu mengadakan penelitian yang tidak pernah mengenal putus asa. Mereka sadar bahwa untuk mendapatkan semuanya itu mereka tidak bisa bekerja secara sendirian. Mereka bekerja sama antar ahli di berbagai bidang. Ahli ilmu faal, ahli ilmu psikologi, agamawan dan ahli teknologi komputerisasi. Akhirnya ditemukanlah suatu metode untuk mengenali Bakat / Potensi Otak Kanan dan Otak Kiri serta mengenali Potensi Kecerdasan. Dan metode itu adalah ”DERMATOGLYPIC MULTIPLE INTELLIGENCE” atau metode DMI.

Penemu teori Multiple Intelligence (MI) adalah bapak Howard Gardner, sedangkan penemu aplikasi MI di dalam kelas pembelajaran adalah bapak Thomas Armstrong. Dan pengembang / penelusuran bakat berbasis Tekonologi dan MI atau DMI (yang dikembangkan di Indonesia) adalah dua orang warga negara singapura Mr. Eric Lim Choo Siang dan Mr. John Choo.

Barang siapa orang berilmu, ia akan dinaikkan sederajat lebih tinggi dari yang lain dan jangan lihat siapa bicara, tetapi lihatlah apa yang dibicarakannya. Dan sungguh Allah menciptakan segala sesuatunya itu tidak ada yang sia-sia dan Allah Maha Kasih dan Penyayang.
Karena itulah ilmu pengetahuan dan teknologi terus menerus akan dikembangkan dan dioptimalkan guna menemukan bakat yang ada pada diri seseorang. Bakat adalah kondisi atau rangkaian karakteristik yang dipandang sebagai gejala kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau serangkaian respon melalui latihan-latihan (Bennet, 1952). Bakat merupakan potensi, sehingga tanpa pengembangan yang berarti (internal dan eksternal) tidak akan menjadi suatu prestasi. Sebaliknya pengembangan yang sangat berarti sekalipun tidak akan optimal kalau diberikan kepada seseorang yang tidak memiliki bakat yang memadai. Keduanya bisa mencapai prestasi optimal bila ada kesesuaian.

PENCARIAN YANG TERARAH. Terkadang suatu usaha untuk mencari benda yang kasat mata saja terasa sulit apalagi mencari sesuatu yang tidak nampak oleh mata. Bakat adalah sesuatu yang tidak begitu saja nampak oleh pencermatan mata kita. Maka ada banyak cara seseorang untuk mengetahui apa sesungguhnya yang menjadi bakatnya itu. Ada yang menggunakan serangkaian tes psikologi. Ada yang melakukan pengamatan langsung terhadap perilaku dalam kesehariannya. Ada yang melalui pencapaian suatu prestasi yang pernah diraihnya. Ada yang melalui jenis golongan darahnya. Ada yang melalui bintang kelahirannya. Dan kali ini adalah melalui sebagian anggota tubuh kita yaitu melalui kesepuluh sidik jari tangan. Dari banyaknya ragam pencarian bakat yang ada selama ini kesemuanya menunjukkan adanya arah dan kemauan yang keras. Tinggal bagaimana kita memilihnya. DMI salah satu alternatif pencarian bakat yang berbasis teknologi terkini melalui sidik jari seseorang, dimana sidik jari antar orang akan berbeda-beda sebagaimana berbedanya bakat antar sesama kita. Semakin sulit sesuatu itu untuk dicari (termasuk bakat), maka semakin ia membutuhkan bantuan dari banyak pihak, bahkan juga dari banyak cara. Teknologi yang canggih dan keilmuan yang mumpuni. Tidak jarang juga membutuhkan tenaga yang banyak terkadang juga biaya yang relatif sangat tinggi. Tetapi semuanya itu tidak begitu menjadi masalah asalkan ia mendatang sesutau yang bermanfaat dan dapat menyingkat waktu menjadi cepat !

MEMBACA PETA POTENSI DAN BUKAN MERAMAL. Dengan tes DMI ini, kita akan bisa membaca dengan baik apa sesungguhnya yang menjadi potensi unggulan pada diri kita. Tes DMI bukanlah suatu ramalan, melainkan suatu upaya untuk membaca ”Peta Potensi Diri” kita. Ibarat seseorang akan menuju ke luar kota, dimana orang tersebut belum mengenali dengan baik jalan yang akan dilaluinya, maka akan lebih efektif apabila orang tersebut memiliki peta yang dapat dipercaya akan mengantarkan ia pada suatu tujuan yang akan dicapai.

IKHTIAR DAN BUKAN MEMBERI VONIS. Tes DMI adalah suatu ikhtiar yang berbasis ilmu dan teknologi. Sebagaimana ikhtiarnya kita selama ini tentang penggolongan darah yang ada pada tubuh kita, ada golongan darah A, B dst. Sebagaimana juga datangnya seseorang yang sedang sakit pada seorang dokter. Dia tidak sedang mencari ”kepercayaan lain” selain kepada Tuhannya. Dia juga tidak sedang mencari jaminan bahwa dirinya pasti sembuh. Tetapi sesungguhnya orang yang sakit itu sedang mencari obat dan berikhtiar. Demikian juga sang dokter tidak sedang mendahului maunya sang Maha Pencipta juga tidak sedang memberikan vonis bahwa sang pasien tersebut pastilah sembuh dan atau pastilah akan meninggal dunia. Ikhtiar disemua bidang sangatlah dibutuhkan.

MEMILIH PENDIDIKAN SEMAKIN MANTAP DAN EFEKTIF. Tentu dengan menggunakan jenis tes pengenalan bakat yang diyakini seseorang, maka langkah berikutnya bagi mereka akan lebih mantap dalam menentukan pilihan pendidikannya. Ia tidak akan menoleh kekanan dan kekiri lagi. Ia akan lebih fokus, dengan demikian maka ia akan lebih efektif pula dalam menguasai ilmu pilihan yang dipelajarinya itu. Sehingga usia yang kurang dari seratus tahun ini, kelak akan bisa kita lalui dengan sesuatu yang lebih padat, terarah dan berisi, lebih efektif dan lebih produktif dari yang seharusnya bahkan akan lebih dari yang lainnya. Maka tes DMI ini sangat cocok juga untuk anak usia pra sekolah (PAUD), anak usia sekolah dan para mahasiswa.

MEMILIH BIDANG BISNIS / BIDANG PEKERJAAN SEMAKIN MENYENANGKAN DAN PRODUKTIF. Secara tradisional (kalau tidak boleh dikatakan secara primitif) sebenarnya ada beberapa indikator atau parameter seseorang itu melakukan sesuatu sesuai bakatnya atau tidak. Pertama, ia penuh rasa riang gembira ketika melakukan sesuatu. Kedua, ia melakukannya sendiri tanpa harus didorong-dorong oleh pihak manapun. Ketiga, ia tidak mudah putus asa dan tidak mudah jenuh pada kondisi apapun saat melakukan sesuatu itu. Untuk itu ketika seseorang tidak menjumpai ketiga indikator itu pada dirinya, maka sebaiknya ia mencari suatu alternatif untuk mengetahui apa yang sebenarnya menjadi bakat bagi dirinya. Jangan sia-siakan sisa usia yang hanya sesaat itu. Jangan rusakkan karir yang kita miliki hanya karena kita jenuh. Jangan bengkalaikan bisnis yang kita tekuni selama ini hanya karena kita jenuh. Pastikan dimana bakat, potensi dan kemampuan kita yang sebenarnya. Dengan bisa mengetahui bakat yang sebenarnya seseorang akan semakin senang menghadapi bisnis atau pekerjaannya dalam kondisi apapun dengan demikian ia tentu akan lebih produktif dari yang senyatanya.

Persembahan DMI PRIMAGAMA INDONESIA
(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore, Comcare Group Singapore)

SUMBER: www.dmiprimagama.com

NEWS
SUKSES : JANGAN TANGGUNG-TANGGUNG


Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo
Direktur DMI PRIMAGAMA INDONESIA


Dalam sehari-sehari dimasyarakat sering kita dengar istilah atau kalimat “jangan tangung-tanggung”. Biasanya dalam keseharian istilah itu digunakan ketika seseorang sedang memberikan komentar terhadap orang lain yang sedang menghadapi persoalan hidup yang menurut mereka relatif cukup berat “makanya hidup itu jangan tanggung-tanggung”. Dalam khazanah ilmu manajemen kalimat “jangan tanggung-tanggung” dikenal atau disepadankan dengan istilah “perencanaan yang matang”. Sedangkan dalam dunia entrepreneurship disebut “bertindak total”, sementara dalam idiom ilmu psikologi disepadankan dengan istlah “bersikap sepenuh hati”.
Pertanyaannya adalah apakah kita dalam bersikap “tidak tanggung-tanggung” itu harus menunggu sampai kita menemui masalah terlebih dahulu ? Apalagi setelah masalah yang kita hadapi sudah relatif berat. Untuk menjawab semuanya itu secara dewasa, maka ada baiknya bahwa sebaiknya dalam bersikap “tidak tanggung-tanggung” itu harus diaplikasikan sejak dalam proses suatu perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan. Sudahkah kita dalam membuat perencanaan tidak tanggung-tanggung ? Sudahkah kita dalam melaksanakan sesuatu itu sudah tidak tanggung-tanggung ? Sudahkah kita dalam melakukan suatu pengawasan tidak tanggung-tanggung ? Sudahkah kita dalam melayani pelanggan / klien / nasabah / mitra / bahkan melayani anak-anak kita dengan tidak tanggung-tanggung ? Sudahkan kita dalam menentukan suatu pilihan dengan tidak tanggung-tanggung ? Tentu kita semua harus menjawabnya dengan pola pikir dan pola tindak yang positif.
Biasanya orang yang gagal adalah orang tidak pernah berbuat apa-apa atau berbuat tetapi penuh keraguan atau tidak sepenuh hati atau tidak secara total atau serba tanggung-tanggung.
BAGI PARA PENGASUH / PENDAMPING (ORANGTUA DAN GURU)
Marilah kita layani anak-anak kita, siswa-siswa kita dengan sepenuh hati dan jangan tanggung-tanggung. Mereka adalah amanah bagi kita, cegahlah agar tidak menjadi fitnah bagi orangtua maupun bagi kita sebagai guru. Siswa-siswa kita adalah tanggungjawab yang dipercayakan kepada guru. Pekerjaan sebagai guru adalah amanah yang mulia, dan kemuliaannya itu terletak pada besar dan beratnya tanggungjawabnya tersebut. Tanggungjawab itu adalah meliputi sukses tidaknya anak didiknya, cerdas tidaknya siswanya, bermoral tidaknya dam seterusnya. Sebagai guru jika tidak sanggup memikul tanggungjawab mulia tersebut maka demi kata “jangan tanggung-tanggung” lebih baik mengundurkan diri saja dari pada mendapat predikat “tidak bertanggungjawab’ atau siap menerima “fitnah” yang lebih kejam dari pembunuhan. Sedangkan bagi para orangtua di rumah, jika anda bersikap tanggung-tanggung, maka bagi anda tidak pernah ada kesempatan untuk “mengundurkan diri sebagai orangtua”, maka pasti anda akan mendapatkan fitnah. Untuk itu, sebelum semuanya terlanjur terjadi mari para orangtua di rumah, guru di sekolah dan tenaga pengajar di lembaga-lembaga kursus untuk saling bekerjasama memikul tanggungjawab yang sangat berat tetapi mulia. Karena menyadari betapa beratnya tanggungjawab itu maka pemerintah telah membentuk payung hukum atas pemikiran yang digagas oleh bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara yaitu konsep Tri Pusat Pendidikan yang meliputi pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Ketiga pilar pendidikan itu sah, diakui negara dan sangat bermanfaat. Orangtua bukan segala-galanya maka masih butuh guru yang ahli dibidangnya, dan guru bukan dewa yang serba bisa maka masih butuh alternatif kursus yang dipandang berpengalaman didunianya. Berikan kesempatan anak-anak atau siswa mengembangkan kemampuannya melalui bakat dan minatnya. Selama semuanya baik bagi masa depannya pendidikan apapun yang sesuai dengan bakat dan minatnya harus kita dukung entah itu di rumah, di sekolah atau di lembaga-lembaga kursus yang diselenggarakan oleh masyarakat.

BAGI PARA PENCARI ILMU (PELAJAR, MAHASISWA, SANTRI)


Tuntutlah ilmu walau jauh ke negeri China, carilah ilmu dari lahir sampai meninggal dunia, barang siapa berilmu akan dinaikkan sederat lebih tinggi dari yang lainnya, tidurnya orang berilmu lebih mulia dari pada ibadahnya orang yang bodoh, dengan ilmu hidup menjadi mudah dan tanpa ilmu hidup akan menjadi susah dan tanpa arah.
Dengan demikian tidak ada alasan bagi para pencari ilmu (Pelajar, Mahasiswa, Santri) untuk tidak semangat dalam menuntut ilmu sebagai bekal mempersiapkan masa depannya. Ingatlah orangtua kita pada saatnya nanti pasti akan dipanggil Tuhan Yang Maha Perkasa dan kita harus siap hidup mandiri tanpa kehadiran mereka. Wahai Pelajar , Mahasiswa dan Santri Indonesia janganlah anda tanggung-tanggung dalam menuntut ilmu. Bekerjakeraslah dalam belajar, jika tidak maka bersiaplah menghadapi pahitnya kebodohan.


BAGI PARA PROFESIONAL (PEKERJA DAN PENGUSAHA)

Ingatlah saat anda dahulu pernah kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Apapun yang ada sekarang ini faktanya anda sudah menjatuhkan pilihan pada bidang pekerjaan anda sekarang ini. Syukurilah fakta itu, akuilah kesulitan itu, bahwa mencari pekerjaan itu tidak semudah yang anda bayangkan. Bahwa anda faktanya tidak bisa memilih pekerjaan sebagaimana yang anda suka, bahwa anda faktanya tidak punya power untuk mengendalikan keadaan dengan sepenuhnya. Mari kita akui semua keadaan itu dengan jiwa yang ikhlas dan kstaria. Jika dalam kenyataannya anda belum bisa mengubah “nasib anda” (itupun jika anda percaya adanya nasib), maka anda masih punya kesempatan untuk mengubah “sikap anda”. Dengan anda mau mengubah sikap anda dalam hidup ini maka seberapun akan bisa memperbaiki keadaan anda. Keadaan adalah akumulasi dari banyak variabel. Keadaan adalah konsekuensi atas sikap anda, maka jangan ubah keadaan, mulailah dengan mengubah sikap anda terlebih dahulu maka lambat laun keadaan akan turut berubah. Nah mari “jangan tanggung-tanggung” menghadapi kenyataan hidup ini. Cintai pekerjaan anda jika anda ingin dicintai oleh pekerjaan kita. Dekatilah pelanggan anda jika anda tidak ingin dijauhi oleh mereka. Bekerjalah dengan ekstra jika anda ingin pendapatan ekstra. Jangan berharap untuk mendapatkan sesuatu jika anda tidak melakukan sesuatu. Jangan mencari kebahagiaan ditempatmu bekerja jika anda tidak menyenanginya. Jangan menyalahkan siapa-siapa jika anda tidak pernah mau berkaca. Dan “jangan tanggung-tanggung” menghadapi itu semua.

Kewajiban manusia adalah berikhtiar, sedangkan hasilnya kita serahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Hanya Tuhanlah yang bisa melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang. Berloma-lombalah kedalam kebaikan. Bekerjasamalah dengan dan untuk kebaikan. Berlomba-lombalah untuk meminta ampunan Tuhan. Bagimu agamu, bagiku agamaku. Bagimu pekerjaanmu, bagiku pekerjaanku. Bagimu amalanmu, bagiku amalanku. “Janganlah tanggung-tanggung” ketika berserah diri pada Sang Maha Pencipta. “Janganlah tanggung-tanggung” ketika datang amanah yang mulia pada kita. “Janganlah tanggung-tanggung” ketika melakukan pekerjaan yang kita punya. Semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Salam damai Indonesia tercinta. Terimakasih
Tulisan ini dipersembahkan oleh :
Manajemen PT. DMI INDONESIA
(Under Lisence Brainy Lab. PTE. LTD. Singapore & Colaboration With Comcare Group Singapore)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar